Selesai kubaca, kututup undangan itu dan kuletakkan di dada. Tak bisa kusembunyikan wajah bahagia penuh haru pada sebingkai cermin di pintu lemari. Pada cermin itu, bisa kulihat bibir ini menyunggingkan senyum, namun sesekali air mata mengalir jatuh dan merusak lengkungnya. Terkadang aku berharap melihat pantulan wajah orang lain dari cermin itu. Dan malam itu, mimpiku tidaklah sesederhana dulu.
*****
Tak seperti biasanya, pagi ini aku terbangun lebih cepat. Bahkan sebelum alunan kitab suci dari surau kampung, menggema meniup serbuk tidur yang bersemayam nyaman di balik selimut. Hanya saja hari ini adalah hari terbesar dalam hidupku. Meski berat, dan dengan penglihatan yang masih buram, aku melangkah menuju pintu kamar mandi. Sejenak mencuci muka lalu membuka kran air. Dan sambil menunggu bak mandi penuh, aku melangkah keluar, menuju ke arah lemari. Cermin itu masih di sana. Wajah itu masih wajah lelaki yang sama.
*****
Kurapikan krah kemeja putihku. Begitu pula bagian rambut, kusisir dengan jari tanganku. Seperti itulah penampilanku yang paling rapi. Mungkin cerminku juga akan berkata begitu.
“Kenapa? Bukankah kau sudah meyakinkan diri?”
“Yakin kok”
“Baguslah. Itu sudah cukup bagus kok untukmu”
“Bagaimana? Perlukah jas putih dan dasi hitam di atas kasur itu kupakai juga?”
“Jika sudah saatnya. Tentunya…”
“Wajahku?”
“Bukan dia”
“Hari ini harus dia!”
“Tak akan bisa”
“HARUS…!!!”
Cukup lama kami berdebat, beradu keinginan. Semua itu terhenti ketika pada akhirnya darah menetes, membanjiri lantai dan pecahan cermin di atasnya. Mungkin saja cermin itu pecah menjadi seribu, pun telah kuhitung seribu wajah muncul di sana. Dari seribu wajah itu, tak satupun ada wajahnya, wajah lelaki yang namanya tertera di undangan itu. Kembali mimpiku tak sesederhana dulu.
*****
Tak seperti malam tadi, air mata lebih dulu jatuh membasahi pipi. Namun bibir ini tak serta merta melengkung ke arah mana air mataku jatuh. Bibir ini tersenyum untuk terakhir kalinya.
Cuaca siang saat itu tidaklah terlalu panas, tak juga bisa dikatakan sejuk. Berangkat dari rumah, berencana untuk singgah ke kantor untuk mengambil flash disk yang tertinggal semalam. Seharusnya bisa saja hari itu aku memilih untuk berisitrahat total di rumah. Bekerja dengan otak kanan selama enam hari itu lebih berat daripada bekerja yang mengandalkan fisik atau otak kiri. Namun pada kenyataannya, aku memilih melanjutkan ‘sesi istirahat’ di hari libur yang aku punya menuju ke salah satu mall terkemuka di kota ini. Memutuskan menikmati secangkir kopi panas di kafe langgananku.
Banyak orang dengan sok bijaknya berkata jika hidup itu adalah sebuah pilihan. Tapi sesungguhnya mereka berani berkata seperti tak pernah berpikir tentang apa yang sedang kita hadapi, berupa apa pilihan itu, atau sekadar menilai pilihan mana yang baik dan yang buruk. Seperti itu.
Baiklah, saat itu aku sudah satu kali dihadapi pilihan. Beristirahat atau ‘beristirahat’.
Mungkin bagi mereka yang merasa dirinya benar-benar sebagai orang yang paling lelah di dunia ini, bekerja keras masuk pagi dan pulang malam, akan berkata:
“Pulang, tidur saja seharian di rumah.”
Dan dengan apa yang telah aku pilih, mereka bisa saja bilang aku salah memilih. Namun itu yang sedang aku butuhkan.
………………………………………………………………………………………………
Pilihan berikutnya adalah daftar menu yang dibawakan salah satu pelayan. Meski tak saling kenal tapi mereka sudah hafal saya. Biasanya saya akan memesan kopi kegemaran saya, secangkir panas “Kalosi Toraja”. Namun di daftar menu menawarkan beragam jenis pilihan minuman dingin. Dan setelah beberapa kali membolak-balik lembar daftar menu, aku memilih Iced Caramel Cappuccino.

Tanpa perlu aku jelaskan, pilihan kali ini juga bertentangan bukan?
Biasanya aku takkan mau peduli dengan keadaan sekita, terlebih cuaca dan suhu udara. Hujan ataupun terik, yang namanya kopi haruslah tersaji panas. Dan hari ini aku sendiri telah mengkhianati idealisme milikku dalam berkopi. (—,)
Satu yang akhirnya saya sadari. Kelima inderalah yang sedang beraksi untuk menentukan sebuah pilihan. Ketika salah satu indera yang mendapat kesempatan untuk mempertimbangkan dan memutuskan, serta merta indera itu mempengaruhi indera yang lain. Lalu mengirim umpan balik yang sama ke sistem pusat syaraf manusia. Seperti itulah.
Jadi, aku takkan habis pikir, apa kata orang tentang apa yang aku pilih. So,…
Persepsi boleh beda, tapi tak bisa dipaksa sama.